Kapan aku akan bangun
dan segera pulang, Tuhan?
Dari segala mimpi menahun
yang tak terbantahkan
Sakit dan nyeri tak kuasa lagi kutahan-kuredam
Seribu palu godam menekan caya-Mu hingga pupus-padam
Aku tak mengerti...
Dalam gulita nyeriku makin jadi
Sepi meruak, menggila dan makin semarak.
Seekor tikus berlari melintasi jarak,
jatuh gelas pecah berserak.
بسم الله الرحمن الرحيم
Home » Archives for 2010
Selasa, Desember 28, 2010
Senin, Desember 27, 2010
Sidang Tanpa Manusia
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Sudah kubilang,
ini sidang tanpa manusia
kau dan aku tak perlu datang
karena kita tak punya suara.
ini sidang tanpa manusia
kau dan aku tak perlu datang
karena kita tak punya suara.
Label:
aku,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
kau,
manusia,
puisi,
sidang,
suara,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Sabtu, Desember 18, 2010
Tak Ingin Kembali
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Dalam mimpi: aku berlari
menyusuri pematang
terus berlari
melewati ladang lapang.
Tepat di seberang ladang
kutemukan sebuah kebun bambu
yang bila angin datang mencumbu
akan terdengar sebuah lagu merdu
mungkin itu rock 'n' roll,
atau cuma nyanyian cengeng-tolol.
Ah, persetan segala bunyi-segala dengus!
Rasanya aku terpukau
dan mulai terbius
semua luka senyap-mampus!
Belenggu?
Remuk-putus!
Tidak Tuhan,
jangan titahkan aku
kembali berlari dan terantuk batu
Kau tahu: aku tak mau.
Tuhan,
kuingin menari saja
agar sunyi segala nestapa.
menyusuri pematang
terus berlari
melewati ladang lapang.
Tepat di seberang ladang
kutemukan sebuah kebun bambu
yang bila angin datang mencumbu
akan terdengar sebuah lagu merdu
mungkin itu rock 'n' roll,
atau cuma nyanyian cengeng-tolol.
Ah, persetan segala bunyi-segala dengus!
Rasanya aku terpukau
dan mulai terbius
semua luka senyap-mampus!
Belenggu?
Remuk-putus!
Tidak Tuhan,
jangan titahkan aku
kembali berlari dan terantuk batu
Kau tahu: aku tak mau.
Tuhan,
kuingin menari saja
agar sunyi segala nestapa.
Jumat, Desember 10, 2010
Dalam Perang dan Damai
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Dalam perang dan damai
aku tak hendak hanyut-terbuai,
jadi kutempuh saja itu terang
meski menghadang parang
di tengah padang.
Moga-moga tak 'kan ada lagi sakit
menggenang di ujung bait.
aku tak hendak hanyut-terbuai,
jadi kutempuh saja itu terang
meski menghadang parang
di tengah padang.
Moga-moga tak 'kan ada lagi sakit
menggenang di ujung bait.
Label:
aku,
bait,
damai,
hanyut,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
padang,
parang,
perang,
puisi,
sakit,
terang,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Senyummu Mati Sudah
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Dalam gelap ku mulai meracau
bayangmu hanyut-hilang,
dan pendar-panasmu jadi kau!
Ah! Gadis,
mau ku seperti dulu:
aku dan kau duduk di dangau
terus bercakap dan menghisap tembakau
sambil mengusir burung gelatik
yang selalu sepi saat turun rintik.
'Kan kutatap muka-matamu yang lentik
hingga detik tak kuasa jadi menit
hingga manis tak lagi ingat pahit.
Semua bayang kini hangus
jadi tanah
jadi debu
dua puluh empat purnama pun berlalu
dan gundah-resah kian mengilu
aku mulai gila dan membisu di kuburan
meski sering kau bilang
jangan bersekutu dengan setan.
Siapa peduli!
Kuingin kau!
Tapi, senyummu kini redup,
tak mau kembali hidup
mati sudah,
mungkin Tuhan marah
padaku yang lupa arah.
bayangmu hanyut-hilang,
dan pendar-panasmu jadi kau!
Ah! Gadis,
mau ku seperti dulu:
aku dan kau duduk di dangau
terus bercakap dan menghisap tembakau
sambil mengusir burung gelatik
yang selalu sepi saat turun rintik.
'Kan kutatap muka-matamu yang lentik
hingga detik tak kuasa jadi menit
hingga manis tak lagi ingat pahit.
Semua bayang kini hangus
jadi tanah
jadi debu
dua puluh empat purnama pun berlalu
dan gundah-resah kian mengilu
aku mulai gila dan membisu di kuburan
meski sering kau bilang
jangan bersekutu dengan setan.
Siapa peduli!
Kuingin kau!
Tapi, senyummu kini redup,
tak mau kembali hidup
mati sudah,
mungkin Tuhan marah
padaku yang lupa arah.
Senin, Oktober 25, 2010
Boneka
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Pulang kondangan,
aku dan kau berhenti di jembatan
yang penuh tambalan dan juga: iklan,
slogan yang belum juga siuman
Sayang, selamanyakah kita mesti bergenggam tangan?
atau kulempar saja kau
ke dalam selokan?
Aku terlampau bosan
dengan segala senyuman
dan mulutmu yang selalu berbusa,
orang bilang kau sakit dan gila,
tapi aku percaya: setan lagi bikin rencana.
Langit hitam-pekat
dan terus meluncur saja
segala kalimat
bak daun diserbu jemaat ulat.
Kawanku selalu bilang:
inilah waktunya kau berdaulat
'habisi berjuta penat,
kubur dia dalam tanah
biar tak lagi mendesah menjadi resah
Tapi kau memang begitu hebat dan egois
kau sumpal lidahku dengan selusin ciuman manis
Ah! Aku cinta kau gadis
terlampau lemah menolak segala bingkis.
Kau gandeng aku pulang
dan aku tenggelam
seperti boneka malang
yang terus bertanya kapan
akan berganti tuan.
Ah! Rokokku terus nyala
mengasapi sepasang udara
Kumatikan lampu dan semua lilin
membiarkan mati begitu saja
cahaya yang begitu nyala di hari kemarin.
Tuhan, ragu dan gundah terus berpilin
nada yang resah terus bermain.
aku dan kau berhenti di jembatan
yang penuh tambalan dan juga: iklan,
slogan yang belum juga siuman
Sayang, selamanyakah kita mesti bergenggam tangan?
atau kulempar saja kau
ke dalam selokan?
Aku terlampau bosan
dengan segala senyuman
dan mulutmu yang selalu berbusa,
orang bilang kau sakit dan gila,
tapi aku percaya: setan lagi bikin rencana.
Langit hitam-pekat
dan terus meluncur saja
segala kalimat
bak daun diserbu jemaat ulat.
Kawanku selalu bilang:
inilah waktunya kau berdaulat
'habisi berjuta penat,
kubur dia dalam tanah
biar tak lagi mendesah menjadi resah
Tapi kau memang begitu hebat dan egois
kau sumpal lidahku dengan selusin ciuman manis
Ah! Aku cinta kau gadis
terlampau lemah menolak segala bingkis.
Kau gandeng aku pulang
dan aku tenggelam
seperti boneka malang
yang terus bertanya kapan
akan berganti tuan.
Ah! Rokokku terus nyala
mengasapi sepasang udara
Kumatikan lampu dan semua lilin
membiarkan mati begitu saja
cahaya yang begitu nyala di hari kemarin.
Tuhan, ragu dan gundah terus berpilin
nada yang resah terus bermain.
Label:
aku,
boneka,
cahaya,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
kau,
lemah,
nyala,
puisi,
resah,
tenggelam,
tuan,
wirjosandjojo
·
2
komentar
Sabtu, Oktober 23, 2010
Bakso Barito di Depan Makam
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Di pangkuanku,
sepuluh tahun yang lalu
gadiskecilku bertanya:
Yah, di manakah Barito
dan lebarkah sungai Mahakam?
Tadi malam
sehabis makan,
perawanmudaku bertanya:
Pap, bolehkah aku bertato
dan jalan-jalan ke kelab malam?
Aku bilang:
sayang, beli bakso di depan
bungkus satu bawa ke makam.
sepuluh tahun yang lalu
gadiskecilku bertanya:
Yah, di manakah Barito
dan lebarkah sungai Mahakam?
Tadi malam
sehabis makan,
perawanmudaku bertanya:
Pap, bolehkah aku bertato
dan jalan-jalan ke kelab malam?
Aku bilang:
sayang, beli bakso di depan
bungkus satu bawa ke makam.
Senyummu Berganti Rena
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Ah, senyummu berganti rena
seperti daun singkong yang mulai tua.
Basah terasa di pipi
jadi bercak di kerah kemeja
yang baru kemarin kau beli
dari sebuah toko tua
di seberang gereja.
Kulihat bunga kamboja
dari pucuk-pucuk yang paling tinggi
menghujani tanah astana
seolah ini kemelut
patut disambut.
Di atas sana
langit mendung belaka
Tuhan,
rampas juga ini senyum di bibir
biar kami sama rata,
hidup dan mati bersia-sia
biar meraja semua hampa
dan tirai mulai jatuh
pertanda akhir cerita
tak lagi jauh.
Mati kumau
adakah kau di situ?
seperti daun singkong yang mulai tua.
Basah terasa di pipi
jadi bercak di kerah kemeja
yang baru kemarin kau beli
dari sebuah toko tua
di seberang gereja.
Kulihat bunga kamboja
dari pucuk-pucuk yang paling tinggi
menghujani tanah astana
seolah ini kemelut
patut disambut.
Di atas sana
langit mendung belaka
Tuhan,
rampas juga ini senyum di bibir
biar kami sama rata,
hidup dan mati bersia-sia
biar meraja semua hampa
dan tirai mulai jatuh
pertanda akhir cerita
tak lagi jauh.
Mati kumau
adakah kau di situ?
Label:
basah,
bibir,
jatuh,
jauh,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
kemelut,
mati,
mendung,
puisi,
rampas,
senyum,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Kamis, Oktober 21, 2010
Cahaya Tetap Nyala
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Tubuhmu beku
di timbunan daun bambu
di tepi jalan
tanpa gairah, tanpa naungan
Mukamu pucat-kurus,
tak terurus
Siapa berdosa?
bukan itu yang hendak kutanya
Nyawa itu tetap nyawa!
begitu juga berjuta lainnya
Tapi mengapa seolah Kau biarkan,
Iblis dan segala setan
bebas mengupil
dan tertawa di jalan.
Suratkabar dengan lugunya
mewartakan bahwa kini dan nanti
Tuhan sudah masuk lemari
biar membusuk, lemas lalu mati
atau dicor saja dalam jembatan
biar lalu-lintas selalu aman
dan ekonomi naik-terbang ke bulan.
Aku menangis
dan terus bertanya
siapa yang pantas 'tuk dibela?
Aku terus menangis
dan tetap bertanya
siapa yang pantas 'tuk dibela?
Tandas-habis itu tangis
saat seorang kawan
yang asalnya sering kulupa:
Jombang atau Lamongan?
menyampaikan surat bergaris
dengan sebuah pita hitam yang manis.
Sejuta cahaya berbaris!
Ya Tuhan,
begitukah keadilan?
Ada banyak topeng
yang menjelma jadi muka
Rugi dan laba jadi pegangan
agama dan budaya ditaruh di bagasi
bawa ke jembatan
lalu dibuang ke kali
hingga manusia selalu kaget
dan cerewet
saat Kau kirim kematian
dengan bentuk
yang mengundang kutuk.
Tuhanku, biar suratkabar berkoar-koar
aku tak peduli!
biar kuhapus sendiri
ini noda di pipi.
Alhamdulillah merekah
dan persetan segala keluh-kesah.
di timbunan daun bambu
di tepi jalan
tanpa gairah, tanpa naungan
Mukamu pucat-kurus,
tak terurus
Siapa berdosa?
bukan itu yang hendak kutanya
Nyawa itu tetap nyawa!
begitu juga berjuta lainnya
Tapi mengapa seolah Kau biarkan,
Iblis dan segala setan
bebas mengupil
dan tertawa di jalan.
Suratkabar dengan lugunya
mewartakan bahwa kini dan nanti
Tuhan sudah masuk lemari
biar membusuk, lemas lalu mati
atau dicor saja dalam jembatan
biar lalu-lintas selalu aman
dan ekonomi naik-terbang ke bulan.
Aku menangis
dan terus bertanya
siapa yang pantas 'tuk dibela?
Aku terus menangis
dan tetap bertanya
siapa yang pantas 'tuk dibela?
Tandas-habis itu tangis
saat seorang kawan
yang asalnya sering kulupa:
Jombang atau Lamongan?
menyampaikan surat bergaris
dengan sebuah pita hitam yang manis.
Sejuta cahaya berbaris!
Ya Tuhan,
begitukah keadilan?
Ada banyak topeng
yang menjelma jadi muka
Rugi dan laba jadi pegangan
agama dan budaya ditaruh di bagasi
bawa ke jembatan
lalu dibuang ke kali
hingga manusia selalu kaget
dan cerewet
saat Kau kirim kematian
dengan bentuk
yang mengundang kutuk.
Tuhanku, biar suratkabar berkoar-koar
aku tak peduli!
biar kuhapus sendiri
ini noda di pipi.
Alhamdulillah merekah
dan persetan segala keluh-kesah.
Label:
buang,
cahaya,
dosa,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
nyala,
peduli,
puisi,
setan,
Tuhan,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Rabu, Oktober 20, 2010
Syair Apatis
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Cakrawala muda,
matari membentang caya! (teriakmu siang ini)
Apalah guna pemuda!
Tokh, mawar yang kemarin merekah-megah
kini jadi debu dikacau arah.
Jadi apa manusia?
matari bosan juga kurasa.
Pulang sayang,
sebelum tanah keburu hitam
tempat bersilang segala pitam.
Jadilah mengerti!
Itu tangan dan kaki,
suara dan segala bunyi,
bukanlah besi
yang dengan senanghati
bisa kautusukkan ke pantat babi.
Kira kaukah
selongsong peluru?
Tembus barisan berpistol-bersepatu,
dengan modal kertas kumal di saku
dan sebuah hati yang teramat lugu?
Sayang, kulihat kaki ibumu hampir lumpuh
terus terisak, terus bersimpuh
airmatanya membasahi bibir sumur yang berlumut,
memohon pada Tuhan dan terus berlutut
semoga jangan datang maut,
menekan-nekan jidatmu ke ketiak rumput.
Sayang, perlu kau menumpah darah?
'ikuti jejak gempita semua arah,
jadi boneka:
diseret-seret gairah sejarah?
matari membentang caya! (teriakmu siang ini)
Apalah guna pemuda!
Tokh, mawar yang kemarin merekah-megah
kini jadi debu dikacau arah.
Jadi apa manusia?
matari bosan juga kurasa.
Pulang sayang,
sebelum tanah keburu hitam
tempat bersilang segala pitam.
Jadilah mengerti!
Itu tangan dan kaki,
suara dan segala bunyi,
bukanlah besi
yang dengan senanghati
bisa kautusukkan ke pantat babi.
Kira kaukah
selongsong peluru?
Tembus barisan berpistol-bersepatu,
dengan modal kertas kumal di saku
dan sebuah hati yang teramat lugu?
Sayang, kulihat kaki ibumu hampir lumpuh
terus terisak, terus bersimpuh
airmatanya membasahi bibir sumur yang berlumut,
memohon pada Tuhan dan terus berlutut
semoga jangan datang maut,
menekan-nekan jidatmu ke ketiak rumput.
Sayang, perlu kau menumpah darah?
'ikuti jejak gempita semua arah,
jadi boneka:
diseret-seret gairah sejarah?
Label:
arah,
boneka,
caya,
debu,
gairah,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
kau,
matari,
maut,
mawar,
puisi,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Kamis, Juli 29, 2010
Ha!
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Rupamu bertopeng kabut
kaukah maut?
atau sekadar kalut
yang sebentar mampir
menggigilkan pikir,
kacaukan bibir?
Rangkaku lenyap?
dihantam senyap-menyengat?
atau jadi bubuk
dimakan rayap?
Ah, minggir kau!
Enyah!
Kau mau ku berjabat tangan?!
lemah-duduk-tunduk
pertanda segan?!
Huh!
Ha! Ayoh putar mata
cari kemana mukaku!
Siapatahu: kau tak tahu
Siapatahu: kau lupa
Siapatahu: kau buta
Haha! Aku tak gemar berjudi.
Sekadar mempertautkan
emosi dan bunyi
Kau geram?,
tawaku makin jadi
Ha!
kaukah maut?
atau sekadar kalut
yang sebentar mampir
menggigilkan pikir,
kacaukan bibir?
Rangkaku lenyap?
dihantam senyap-menyengat?
atau jadi bubuk
dimakan rayap?
Ah, minggir kau!
Enyah!
Kau mau ku berjabat tangan?!
lemah-duduk-tunduk
pertanda segan?!
Huh!
Ha! Ayoh putar mata
cari kemana mukaku!
Siapatahu: kau tak tahu
Siapatahu: kau lupa
Siapatahu: kau buta
Haha! Aku tak gemar berjudi.
Sekadar mempertautkan
emosi dan bunyi
Kau geram?,
tawaku makin jadi
Ha!
Label:
bunyi,
gigil,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
kacau,
kau,
maut,
puisi,
rayap,
senyap,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Pipit
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Mau apa kau suara?
Malam sunyi,
siang mati:
langit mendung
menjemukkan!
Membisik angin berkata-kata
antara Bogor - ibukota,
menyusup caya:
hitam?
merah, biru?
Malam sunyi,
siang mati:
langit mendung
menjemukkan!
Membisik angin berkata-kata
antara Bogor - ibukota,
menyusup caya:
hitam?
merah, biru?
Label:
bogor,
caya,
ibukota,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
kau,
malam,
mendung,
puisi,
sunyi,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Coklat Surat
Diposting oleh
Johnny Wirjosandjojo
Ah, M.
pada pahatan tinta
yang dingin-redup kemarin:
aku menanti
senyummu cepat
menuju tangis pilu
atau sepi itu tangis
ramai bunyi langkah
pawai berbaris?
tahu aku 'pastiannya:
silangkan tangan,
menguping dengar
hingga ramai suara
lenyap-sepi-menghambar
Ah, gadis,
dadaku terlantar
tergolek-menghampar
gelisah tak kuasa berkelesah
resah menggundah tanah
di muka pasar.
pada pahatan tinta
yang dingin-redup kemarin:
aku menanti
senyummu cepat
menuju tangis pilu
atau sepi itu tangis
ramai bunyi langkah
pawai berbaris?
tahu aku 'pastiannya:
silangkan tangan,
menguping dengar
hingga ramai suara
lenyap-sepi-menghambar
Ah, gadis,
dadaku terlantar
tergolek-menghampar
gelisah tak kuasa berkelesah
resah menggundah tanah
di muka pasar.
Label:
gelisah,
johnny,
johnny wirjosandjojo,
puisi,
resah,
senyum,
tangis,
tinta,
wirjosandjojo
·
0
komentar
Selidik
Tag
- airmata
- aku
- angin
- api
- arah
- asing
- atap
- bachri
- badai
- bagi
- bahagia
- bahtera
- bait
- bandung
- basah
- batu
- bayang
- benderang
- bentuk
- berhenti
- berlayar
- bernyanyi
- biak
- biar
- bibir
- bilang
- bising
- bisu
- bogor
- Bohar
- boneka
- buang
- budak
- bulan
- bunga
- bunyi
- busuk
- buta
- cahaya
- calzoum
- caya
- damai
- darah
- datang
- debu
- dendam
- dendang
- dengus
- deru
- desember
- desir
- desis
- dewi
- dia
- diam
- dingin
- dosa
- drama
- dungu
- duri
- dusta
- engkau
- frekuensi
- gadis
- gagak
- gairah
- gelap
- gelisah
- gelombnag
- gigil
- gila
- gulita
- gundah
- habis
- haduh
- hampa
- hanyut
- harap
- hati
- hening
- hentikan
- hilang
- hilang arti
- hilir
- hujan
- hulu
- ibukota
- Ida
- ingin
- iri
- jadilah
- jalan
- jalang
- jantera
- jarak
- jatuh
- jauh
- jenuh
- jika
- johnny
- johnny wirjosandjojo
- jua
- kabut
- kaca
- kacau
- kaki
- kalimat
- karat
- kata
- kau
- keberanian
- kediaman
- kejar
- kelam
- keluh
- kembali
- kemelut
- kemudi
- kepercayaan manusia
- kerudung
- kesumat
- koin
- ku
- lagi
- langit
- lapuk
- layu
- lebam
- lekas
- lemah
- lentera
- lenyap
- lepas
- luka
- mahabahagia
- makam
- maksud
- malam
- mampus
- manis
- manusia
- marah
- matari
- mati
- maut
- mawar
- maya
- mblekethu
- melawan
- melayang
- melunak
- menang
- menanti
- mencari
- mendadak
- mendiami
- mendiamkan
- mendung
- mengaca
- menggugat
- menyerah
- meridipus
- mimpi
- minggu
- muak
- nadi
- nanah
- nestapa
- ngilu
- nopember
- nyala
- nyanyi
- nyata
- nyeri
- ombak
- omega
- Orakel
- padam
- padang
- panas
- parang
- pasir
- patah
- payah
- pecah
- peduli
- pekat
- pelepasan
- pelita
- penggal
- pengkhianatan masa
- perang
- percakapan
- percaya
- pergi
- perih
- perjanjian
- pohonan
- puisi
- pukau
- pulang
- pupus
- rahwana
- ramaparasyu
- rampas
- rantas
- rasa
- ratap langit
- rayap
- redam
- redup
- rembulan
- remuk
- renta
- resah
- riang
- rindu
- rindudendam
- roda
- rokok
- rumah
- sajak
- sakit
- sanda
- sangkar
- Saraswati
- satu babak
- sayangm basah
- sayap
- segala
- segara
- sejarah
- selintas lalu
- senja
- senyap
- senyum
- senyuman
- sepi
- september
- sesal
- sesudah
- setan
- siapa
- sidang
- sinta
- sorga
- suara
- sunyi
- surat
- sutardji
- syair
- syair kalah
- tali
- tanah
- tanda
- tangis
- tegak
- televisi
- tenggelam
- tentang
- terang
- terbenam
- terbit
- terdiam
- teriak
- terjaga
- tiada
- tinggi
- tinta
- titik
- tuan
- Tuhan
- tukang pangkas
- tuli
- ufuk
- unggun
- usang
- waktu
- warga negara
- wirjosandjojo