بسم الله الرحمن الرحيم

About

Kamis, Maret 15, 2012

Sajak Untuk Hujan

untuk aku yang lebih menyukai hujan
ketimbang sedu sedan perempuan

Sudah, sudah, hisap kembali airmatamu yang hendak jatuh.
Jangan, jangan, jangan biarkan ada lagi yang bertemu
dan menetesi musimsilam yang telah jauh.
Aku tak hendak mengingkari
persetujuan yang sudah kutandatangani
dengan cuaca yang mengetuk-ngetuk jendelaku pagi ini.

Aku telah melawat ke langit yang lain
tempat kukecup segala rasa hujan yang asing
jerit air yang tak pernah dapat kutemukan
selagi aku masih dalam persembunyian:
langit sempit yang merampas
tempias gerimis mendung kelam

O hujan O langit O awan
lepas, lepas, lepaskanlah segala kelunya rindu
yang selama ini hanya bisa kau sampaikan
pada kayu bisu dan kaca yang tak dapat kau tembus

Sekarang inilah aku, aku sendiri
tanpa koma dan tanda baca lagi

Jadi percaya, percaya, percayalah!
Untuk sekarang dan selama kau mau:
Aku, tubuhku
adalah bunga-bunga layu
genteng-genteng kering penuh debu
yang mendambakan keberanianmu
untuk membawakan kebahagiaan
dalam setiap resah dan basah
desahmu yang dikibarkan angin yang marah.


Utan Kayu, Kamar 8 - Jalan Pramuka 33 Lantai 6 - Kamar 8
15 Maret 2012
dari jam 7-an pagi hingga malam sekitar jam 8-an

5 komentar:

Paul Hafalla mengatakan...

what a lovely poem :)

Paul Hafalla mengatakan...

what a lovely page and poem

Johnny Wirjosandjojo mengatakan...

Thanks... :D

tinutuanskaledo mengatakan...

aku suka hujan
entah dia gerimis
entah dia deras
mengucur membasahi muka
lalu sekujur tubuh
mandi gerimis rimis miris
mandi hujan deras basah membasuh tubuh

hujan yang penuh rindu
dalam titik-titik airnya membias cerita
cerita lalu, kini dan yang sedang diimaji
membuai rangkaian sungai alur kehidupan

hujan itu asik
kalo ngga banjir :D

Johnny Wirjosandjojo mengatakan...

Hujan adalah temanku saat ibu dan bapak tak ada di dekatku, menjagaku.

Hujan selalu mengingatkanku akan halaman rumah almarhum kakek yang lebar, yang biasanya jika musim panen datang, gundukan padi yang basah-basah, gundukan padi yang kering-kering menutupi seluruh permukaannya.

Hujan adalah Purwokertoku.

Sebelum hujan, angin bertiup kencang mengiri-kanankan dahan jati di lapangan depan sekolah Ida.

Ketika hujan sampai di aspal, ku berlari melewati rumah tua yang di samping rumahnya selalu ada bunga putih yang aku tak tahu apa namanya. Aku terus berlari menuju gerobak tukang koran di depan sekolahku dahulu. Mencari-cari koran bola yang mungkin aku tinggalkan di sana...

Selepas hujan pergi dan tinggal rinai gerimis yang mengisi malam, aku melihat pada bayanganku sendiri dalam kubangan. Bayanganku bergerak-gerak karena rintik, angin yang terbang serendah tumit, dan laron-laron yang sekarat, yang jeritnya sediam tiang, tak ada yang mendengar, tak ada yang bersedih...

Demi Tuhan, banjir pun tak apa. Demi Tuhan, banjir pun tak apa. Tiap susah hanya kan mengingatkanku padaNya.

Poskan Komentar

Selidik

x

Tag